Rabu, 26 Maret 2014

BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang  Masalah  
Dalam Islam, berbicara mengenai pendidikan tidak dapat dilepaskan dari asal muasal manusia itu sendiri. Kata “pendidikan” yang dalam bahasa arabnya disebut “tarbiyah” (mengembangkan, menumbuhkan, menyuburkan) berakar satu dengan kata “Rabb” (Tuhan). Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan adalah sebuah nilai-nilai luhur yang tidak dapat dipisahkan dari, serta dipilah-pilah dalam kehidupan manusia. Terpisahnya pendidikan dan terpilah-pilahnya bagian-bagiannya dalam kehidupan manusia berarti terjadi pula disintegrasi dalam kehidupan manusia, yang konsekwensinya melahirkan ketidak-harmonisan dalam kehidupannya itu sendiri.
Dalam Al Qur’an, QS. As Sajadh: 7-9,
üÏ%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&yt/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ   ¢OèO Ÿ@yèy_ ¼ã&s#ó¡nS `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ä!$¨B &ûüÎg¨B ÇÑÈ   ¢OèO çm1§qy yxÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ¾ÏmÏmr ( Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur 4 WxÎ=s% $¨B šcrãà6ô±n@ ÇÒÈ  
Artinya “
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.”
“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani)”.
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”
Dapat disimpulkan bahwa asal muasal komposisi manusia itu terdiri dari tiga hal yang tidak terpisahkan: 1. Jasad. 2. Ruh. 3. Intelektualitas.
Semua manusia adalah sama dalam komposisi ini. Mereka semua tercipta dan dilahirkan ke alam dunia ini dengan dasar penciptaan dan kehidupan yang tidak berbeda. Kesimpulan ini telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai haditsnya, al:
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas dasar fithrah. Hanya saja, kedua ibu bapaknya yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi” (hadits)”Setiap hambaKu Aku ciptakan dengan kesiapan menjadi lurus (baik). Hanya saja, syetan-syetan menjadikan mereka tergelincir (dalam kesesatan)” (hadits Qudsy).
Bahkan Al Qur’an itu sendiri dengan tegas menyatakan bahwa komposisi penciptaan yang sempurna ini (ahsanu taqwiim) dan diistilahkan dengan “fithrah Allah” (insaniyah/kemanusiaan), tidak mungkin terganti atau terubah. Sebagaimana tercantum dalam QS: Ar Ruum: 30.
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  
Artinya ;
“ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,”
Hakikat ini terkadang pula disebut “Sunnatullah” (hukum Allah). QS: Al Ahzaab: 33, QS: Faathir: 35, dan QS: Al Fath: 48.
Dasar-dasar pendidikan anak dalam Islam dapat disimpulkan dari berbagai ayat, antara lain QS: Luqman: 12 – 19 ,
ôs)s9ur $oY÷s?#uä z`»yJø)ä9 spyJõ3Ïtø:$# Èbr& öä3ô©$# ¬! 4 `tBur öà6ô±tƒ $yJ¯RÎ*sù ãä3ô±o ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî ÓÏJym ÇÊËÈ   øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ   $uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷ƒyÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ   bÎ)ur š#yyg»y_ #n?tã br& šÍô±è@ Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ   ¢Óo_ç6»tƒ !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5AyŠöyz `ä3tFsù Îû >ot÷|¹ ÷rr& Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& Îû ÇÚöF{$# ÏNù'tƒ $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#ÏÜs9 ׎Î7yz ÇÊÏÈ   ¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ   Ÿwur öÏiè|Áè? š£s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9qãsù ÇÊÑÈ   ôÅÁø%$#ur Îû šÍô±tB ôÙàÒøî$#ur `ÏB y7Ï?öq|¹ 4 ¨bÎ) ts3Rr& ÏNºuqô¹F{$# ßNöq|Ás9 ÎŽÏJptø:$# ÇÊÒÈ  

Artinya ;
12. dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
dan QS: As Shafaat: 102, serta berbagai hadits Rasulullah SAW.
Kisah Luqman yang oleh sebagian ulama digelari dengan “al hakiim” atau “Luqman yang bijaksana” mengajarkan bahwa “sifat bijak” bagi seorang pendidik termasuk para orang tua adalah suatu keharusan. Luqman yang memang secara khusus dikaruniakan ni’mat “hikmah” oleh Allah itu menyadari sepenuhnya bahwa anak adalah bagian dari keni’matan Ilahi yang menjadi cobaan (fitnah) atasnya. Oleh sebab itu ia menanamkan pendidikan kepada anaknya sebagai manifestasi kesyukurannya terhadap Allah Pemberi ni’mat.
Masalah pengajaran Pendididkan agama disekolah sudah saatnya dipikirkan, dianalisa, dan diidentifikasi masalahnya secara lebih serius. Karena masalah pengajaran pendididkan agama disekolah selain memiliki masalah yang tidak sedikit, sekaligus juga mendalam.
Tugas dan tanggung jawab atas pendidikan agama disekolah tidak hanya pada guru agama saja, tetapi merupakan tanggung jawab sekolah secara keseluruhan. Lingkungan sekolah harus mendukung dan  menjadi laboratorium bagi pengajaran agama. Dengan demikian, lingkungan dan proses kehidupan semacam ini bagi para siswa benar-benar bisa memberi pendidikan dan pelatihan tentang “ bagaimana  cara belajar beragama”
Usia Berapa Sebaiknya Anak Masuk SD?  Pertanyaan ini pasti sering menghinggapi orang tua yang memiliki balita. Pada usia berapa sebenarnya anak bisa masuk SD ? Yang diharapkan anak sudah mantap secara fisik dan psikologis sehingga cukup cepat menangkap pelajaran. Bolehkah Anak masuk SD pada usia di bawah 6 tahun ?
Finlandia sebuah Negara dengan ibukota Helsinki (tempat ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dengan GAM) merupakan negara dengan peringkat pertama untuk kualitas pendidikan. Ini memang begitu luar biasa. Peringkat 1 dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assesment) mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.
Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu. Dengan kata lain kesiapan dalam hal kematangan merupakan hal pokok sebelum menempuh pendidikan.
Dilain pihak Utami Munandar mengatakan sebenarnya bisa saja anak yang belum berusia 6 tahun bersekolah di sekolah dasar. Sebab yang lebih penting sebenarnya kesiapan umur mental si anak, yakni kemampuan mental dan intelektual, bukan umur kalendernya. "Contoh, anak umur 4 tahun tapi umur mentalnya 6 tahun, berarti mereka sudah siap masuk SD," papar Prof Dr. S.C . Utami Munandar, guru besar psikologi anak Universitas Indonesia. Cuma, untuk mengetahui apakah umur mental anak siap, orangtua mesti mengeceknya dengan melakukan tes umur mental ke psikolog. Dari sini, nanti bisa diketahui IQ anak, dengan rumus: (umur mental/umur kalender) x 100 = IQ. Bila skor IQ anak di atas 130, jauh di atas anak normal (skor IQ 85-115), bisa saja ia dipandang gifted dan dipertimbangkan masuk SD lebih awal, setelah mempertimbangkan aspek-aspek lainnya.
Tapi ada resiko lain yang mungkin dialami anak jika masuk sekolah terlalu kecil. Misalnya karena anak masih kecil tidak sanggup menghadapi tekanan pelajaran dan guru yang menyebabkan anak stress dan malas sekolah. Bisa juga minder dalam pergaulan karena dianggap masih anak kecil.
Ketika otonomi daerah mulai diberlakukan sejak 2001 lalu, urusan pendidikan dasar menjadi urusan di bawah dinas pendidikan masing-masing daerah. Aturannya tetap sama, usia masuk SD diutamakan 7 tahun, bila kapasitasnya masih mencukupi bisa menerima murid yang berusia 6 tahun dengan prioritas usia mendekati 7 tahun. Tentunya, angka 7 itu sudah melalui penelitian panjang sebelumnya.
Perubahan merupakan hal yang melekat dalam perkembangan. E.B. Hurlock (Istiwidayanti dan Soejarwo, 1991) mengemukakan bahwa perkembangan atau development merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Ini berarti, perkembangan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat progresif (maju), baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perubahan kualitatif disebut juga ”pertumbuhan” merupakan buah dari perubahan aspek fisik seperti penambahan tinggi, berat dan proporsi badan seseorang. Perubahan kuantitatif meliputi peubahan aspek psikofisik, seperti peningkatan kemampuan berpikir, berbahasa, perubahan emosi dan sikap, dll. Selain perubahan ke arah penambahan atau peningkatan, ada juga yang mengalami pengurangan seperti gejala lupa dan pikun. Jadi perkembangan bersifat dinamis dan tidak pernah statis.
Terjadinya dinamika dalam perkembangan disebabkan adanya ”kematangan dan pengalaman” yang mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi/realisasi diri. Kematangan merupakan faktor internal (dari dalam) yang dibawa setiap individu sejak lahir, seperti ciri khas, sifat, potensi dan bakat. Pengalaman merupakan intervensi faktor eksternal (dari luar) terutama lingkungan sosial budaya di sekitar individu. Kedua faktor (kematangan dan pengalaman) ini secara stimultan mempengaruhi perkembangan seseorang. Seseorang anak yang memiliki bakat musik dan didukung oleh pengalaman dalam lingkungan keluarga yang mendukung perkembangan bakatnya seperti menyediakan dan memberi les musik, akan berkembang terus menerus sepanjang hayat memungkinkan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana manusia hidup. Sikap manusia terhadap perubahan berbeda-beda tergantung beberapa faktor, diantaranya pengalaman pribadi, streotipe dan nilai-nilai budaya, perubahan peran, serta penampilan dan perilaku seseorang.
Pada dasarnya, setiap individu mempunyai kemampuan untuk belajar. Proses semacam ini dialaminya semenjak ia lahir sampai tumbuh dewasa. Adanya suatu kegiatan belajar tidak lepas dari pada tujuan yang hendak dicapai yakni agar mampu mengadakan perubahan-perubahan dalam setiap perkembangannya yang ada.
Adapun tantangan yang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar amat banyak sekali, khususnya pada lembaga pendidikan. Karena diharuskan atau dituntut agar siswa berhasil dalam studinya tersebut.
Kalau dilihat lebih jauh tentang berbagai upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut, seolah-olah masih terjadi ketidak puasan terhadap siswa dikarnakan tidak sesuai dengan tujuan belajar itu sendiri. Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama agar nantinya siswa dapat mengetahui serta memahami tentang terbagi metode yang harus ia jalani sehingga nantinya akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
Dalam proses belajar mengajar sangatlah diperlukan suatu metode yang pas yang harus diterapkan dalam kegiatan belajar agar siswa dapat mencapai suatu keberhasilan. Disinilah kita membutuhkan suatu renungan pemikiran dan kerja keras untuk memecahkan masalah yang berkenaan dengan belajar mengajar.
Namun dalam pandangan Thorndike mengemukakan dalam belajar terdapat tiga hukum yang utama yaitu ;
a.       Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons  menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus - Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula  hubungan  yang terjadi antara Stimulus- Respons.
b.      Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
Menurut Gunarsa kesiapan ini dari sudut kematangan dan dari sudut kemauan.
c.       Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan  semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
Dalam Islam pendidikan adalah hal sangat penting yang perlu ditanamkan sejak usia dini, namun dalam menempuh pendidikan tersebut ada banyak hal yang perlu di perhatikan oleh orang tua, guru, atau pun pemerintah diataranya adalah kesiapan dalam bentuk kematangan sehingga diharapkan dapat memacu prestasi belajar peserta didik.
B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, penulis merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.   Bagaimana kematangan peserta didik di kelas VI SDN 2 Tunggilis?
2.   Bagaimana prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI dikelas VI SDN 2  Tunggilis?
3.   Bagaimana pengaruh kematangan peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI di kelas VI SDN 2 Tunggilis?
C.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1.   Kematangan peserta didik di kelas VI SDN 2 Tunggilis.
2.   Prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI dikelas VI SDN 2 Tunggilis
3.   Pengaruh kematangan peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI di kelas VI SDN 2 Tunggilis.
D.    Kegunaan Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan memberikan kegunaan baik secara praktis dan akademis diantaranya:
Kegunaan secara praktis:
1.      Bagi guru, dapat dijadikan sebagai pedoman dan bahan acuan dalam upaya untuk meningkatkan prerstasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI.
2.      Bagi peserta didik, dapat menjadi pedoman mengenai pentingnya meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran PAI.
3.      Bagi penulis, dapat menambah wawasan dan dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya pengaruh kematangan peserta didik terhadap prestasi belajar mereka pada mata pelajaran PAI, serta dapat dijadikan bahan untuk penelitian selanjutnya yang relevan dengan permasalahan penelitian ini.
Kegunaan secara akademis,
Dari penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dalam  pengaruh kematangan peserta didik terhadap prestasi belajar mereka pada mata pelajaran PAI.
E.     Langkah-langkah Penelitian
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kelas VI SDN 2 Tunggilis. Alasan penulis memilih lokasi tersebut karena sepengetahuan penulis di sekolah tersebut sampai penulis mengadakan penelitian, belum pernah ada yang meneliti, juga karena di lokasi terdapat permasalahan dengan objek yang diteliti serta tersedia data-data dan sumber data yang dibutuhkan.
Sedangkan waktu penelitian direncanakan dapat diselesaikan dalam jangka tiga bulan, yaitu dari mulai 01 September sampai dengan 01 november 2010.
2. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah bagian penting dari suatu penelitian. Bagi penelitian kuantitatif, variabel penelitian bahkan menjadi syarat mutlak. Untuk penelitian jenis ini, minimal variabel yang diteliti adalah dua variabel (X dan Y). Sedangkan untuk jenis penelitian kualitatif, variabel penelitian setidaknya menggambarkan objek yang diteliti.
Penelitian dengan masalah: Apakah terdapat Pengaruh Kematangan Peserta Didik Terhadap Prestasi Belajar Mereka Pada Mata Pelajaran PAI (penelitian di SDN 2 Tunggilis kecamatan Kalipucang Kabupaten Ciamis)
Variabel X( terikat) = pengaruh kematangan peseta didik
Variabel Y( bebas) = prestasi belajar mereka pada mata pelajaran PAI
3. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruha objek penelitian. Sedangkan sampel adalah sebagian kecil atau wakil populasi yang diteliti ( Arikunto, 1999: 117). Pengambilan sampel didasarkan pendapat Suharsimi Arikunto (1999: 120),  yaitu: apabila subjeknya kurang dari 100 orang atau bejumlah 100 orang lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subjeknya lebih besar  dari 100 orang dapat diambil 10%, 15% atau 20% - 25%.
Dalam penelitian ini diketahui bahwa jumlah peserta didik kelas VI SDN 2 Tunggilis berjumlah 30orang, maka penulis mengambil sampel seluruhnya yaitu 30 orang.
4. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penulisan ini ialah metode deskriptif. Surakhmad (1990: 1390 mendifinisikan metode deskriptif yaitu: menuturkan dan menafsirkan data yang ada, misalnya tentang situasi yang alamiah, kegiatan pandangan, sikap nampak dan sebagainya. Metode penelitian deskriptif ini adalah kegiatan penyelidikan untuk memecahkan masalah dengan jalan mengumpulkan data, menyusun atau mengaplikasikan, menganalisa dan menginterprestasi.
5. Teknik Pengumpulan Data
a. angket
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memeperoleh informasidari responden, dalam arti laporan pribadi atau hal-halyang diketahui( Arikunto, 1999: 227). Bentuk angket ini adalah terstruktur, berisi pertanyaan maupunpernyataan yang disertai sejumlah alternative jawaban.
Pada penelitian ini, teknik angket digunakan untuk memeperoleh data tentangpengaruh kasih saying orang tua terhdap prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI ,dan jenis angket yang digunakan yaituangket tertutup yang jawabannya sudah disediakan secara terstruktur, dengan dilengkapi jawaban terdiri dari a, b, c, dan d. Pada variable ini disediakan pertanyaan sebanyak 15 buah.Untuyk memberikan skor pada tiap alternatip jawaban, R Likert yang dikutip oleh Wayan Nurkancana dan PPNF Sumarta (1992: 281) memberikan batasan sebagai berikut: untuk statemen yang positif pilihan sangat setuju skornya 5, setuju skornya 4, ragu-ragu skornya 3, tidak setuju skornya 2 dan sangat tidak setuju skornya 1, untuk negative system skornya sebaliknya.
b.                  Observasi
Menurut Surakhmad (1990: 162) observasi yaitu teknik pengumpulan data dimana penyelidik mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat0 terhadap gejala-gejala subjek yang diselidiki. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data tentang kondisi objektif SDN 2 Tunggilis, baik dari letak geografisnya, siswa, guru, bangunan serta hallain yang dianggap mendukung keberhasilan penelitian ini.
c.                   Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai ( interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2004: 135). Wawancara akan dilakukan dengan sumber data yang berkaitan dengan permasalahan judul skripsi ini. Sumber data tersebut antara lain Kepala Sekolah dalam rangka mengetahui kondisi objektif lokasi penelitian, peserta didik  dan guru.
d.                  Studi Dokumentasi
Studi Dokumentasi dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang menurut penulis ada relevansinya dan mendukung tambahan data untuk perlengkapan penelitian. Selain itu, studi dokumentasi juga dilakukan untuk mengumpulkan data gambaran umum sekolah yang dijadikan lokasi penelitian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar