Senin, 19 Maret 2012

HISTORY OF THE VILLAGE TUNGGILIS

   
   Formation begins with the history of the village Tunggilis Eyang Malangkars with his friends who are often called count to fifteen (cacah 15). Embah Malangkarsa came from the State Banjar, Central Java and comes pre-war Dutch Diponegoro in 1810. The village's original inhabitants are the descendants Tunggilis Embah ( mean=grandparent)Malangkarsa who has two children, the Eyang Patinggi and Eyang Jaksa. According to the story, he got a degree in Cikupa officials, District Pamarican in 1229 and this is evidenced in karopak copper.
   The other opinion states that the initial establishment of the Village Tunggilis comes from the village of Karang Kadawung, Gempalan precisely in what is now the hamlet Cimentek led by a village chief named Mr. Karta Winata (Eyangnya Mr. D. Solih) former head of the village to 18. Not long after the village of Karang Kadawung divided into two, namely the village Banjar and the village Buniasih. Buniasih according to the story village led by a hereditary chief of the village by Eyang Patinggi and the village of Banjar led by Mas Jaya Banjar village of the year 1812 to 1815. Headquarters in Bulak Banjar is now a village Banjarharja.
    Tunggilis's name from one of the (cacah 15) fifteen count as an ancestor named Grandmother Tunggilis is now his tomb is located in Cinyepret, Karang Nangka, Banjarharja Village. According to the story, which gave the name Eyang Patinggi Tunggilis Buniasih Village and later united into the village of Banjar Village Tunggilis. Another story about the origin of the name Ama Sacadibrata Tunggilis said nut stump in making settlements or buildings bobonjok disconnected boundary marking (Nunggeulis), then given a limit put on a very strong nut trees.
        For the next generation to generation in order to know the ancestral village called Tunggilis count fifteen, spelled out the name and patilasan (tomb) as follows:  
1. Malangkarsa grandparent buried in Kalapa Two, Village Tunggilis
2. Grandmother is buried in Kalapa Patinggi Two, Village Tunggilis
3. Grandmother Attorney, was buried in Kalapa Two, Village Tunggilis
4. Pereng grandparent, buried in Kalapa Two, Village Tunggilis
5. Grandmother Sutasara, buried in Mangku Jajar, Village Banjarharja
6. Grandmother Tunggilis, buried in Cingepret, Coral Jackfruit, Village Banjarharja
7. Grandmother Sabaranti, buried in Kalapa Endep, Cimentek, Village Tunggilis
8. Grandmother Panambangan, buried in Bulakbanjar, Village Banjarharja
9. Sepuh Grandmother / Grandmother Depok, Depok was buried in, Village Banjarharja
10. Dalem Senopati Jandaru grandparent, buried in Panaekan, Desa Putra dish
11. Grandmother Raden Donan, is buried in the Cave of Donan, Village Tunggilis
12. Kersa embrace grandparent, buried in the Kd. Gabar, Village Banjarharja
13. Grandmother Sepuh, buried in Depok, Village Banjarharja
14. Adem Legok, buried in Cimangsur, Village Tunggilis
15. Grandmother Love Alit, buried Cibarengkok, Village Tunggilis
The genealogy Tunggilis Village (village government came to power holders)  
1. Mas Jaya Banjar, placing the center of the village government in Bulakbanjar
2. Mas Candradiwangsa: years 1832 - 1852
3. Raden Burdji: years 1852 - 1872
4. Raden Sarman: years 1872 - 1887
5. Raden Pernata: years 1887 - 1892
6. Marmo Miharjo: years 1892 - 1901
7. Raden Harjawinata: years 1901 - 1928
8. Raden Kartadireja: years 1928 - 1940
9. M. Jayadiharja: years 1940 - 1945
10. Tjandradiwangsa: years 1945 - 1954
11. Hasanusi (Acting): years 1954 to 1958
12. Natadiharja: years 1958 - 1959
13. Moch. Suhandi: years 1959 - 1962
14. H. Muhtar: years 1962 - 1974
15. Dedi Suryadi (Acting): years 1974 to 1976
16. Leman Sudrajat: years 1976 - 1981
17. A. Tashana (Acting): years 1981 to 1983
18. D. Solih: years 1983 - 1986
19. A. Tashana (Acting): years 1986 to 1989
20. Ece Sujana: years 1990 - 1993
21. Haer Heryawan: years 1994 - 2002
22. Haer Heryawan: years 2002 - 2007
23. Gumilar Ilan, S. H: in 2007 - now

       View of the fact mentioned above, when the village head Mr. Leman Sudrajat, Village Tunggilis experience Banjarharja expansion into the Village in 1979 in accordance with the Decree of the Head of the Provincial Governor of West Java Avg. 939/Pem/120-Pemdes/SK/1978 dated June 15, 1978 on the Village Expansion.

Harus Beralih dari Minyak ke Gas


Dr. Kurtubi

Kita menyadari bahwa subsidi BBM di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita setiap tahun terus meningkat. Jadi cukup memprihatinkan di tengah infrastruktur yang ada di negeri ini yang sangat kurang, baik infrastruktur transportasi berupa jalan raya, rel kereta api, ataupun gerbongnya, dan lainnya.

Sekarang subsidi sudah membengkak menjadi Rp160-an trilyun. Kalau ada upaya untuk menurunkan jumlah subsidi tersebut, itu kebijakan yang bagus. Hanya saja dalam beberapa tahun ini wacana kebijakan yang akan dikembangkan bahkan yang akan diterapkan adalah melakukan pembatasan BBM yang kita telah mendengar konsepnya selama bertahun-tahun. Yang terakhir, pemerintah mengumumkan mulai 1 April 2012 untuk Jawa-Bali mau diterapkan pembatasan BBM dimana kendaraan plat hitam akan dilarang membeli BBM bersubsidi atau Premium. Alternatifnya adalah pindah ke non-subsidi yaitu Pertamax yang memiliki oktan 92 ke atas yang dijual Pertamina. Ada juga super 92 ke atas yang dijual pom bensin lain. Jadi, pindah dari Premium ke Pertamax dan sejenisnya.

Kenaikan harganya sekitar Rp 1.000 – 1.500 per liter. Premium dari Rp 4.500 per liter menjadi Rp 6.000. Saya pikir ini cukup reasonable karena pada 2008 saat harga minyak dunia sudah menembus di atas US$ 100 per barel, harga Premium di Indonesia pernah Rp 6.000 per liter pada 2008. Itu semasa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono juga. Jadi kalau sekarang menaikkan harga Premium menjadi Rp 6.000  per liter maka ini bukan hal baru.

Nah itu berarti kebijakan ini sama juga menaikkan harga hampir dua kali lipat. Sementara kalau dilihat dari sisi kebijakan energi, maka jelas sekali kalau upaya untuk menggiring rakyat secara massal pindah dari Premium ke Pertamax dan sejenisnya ini tidak tepat, bahkan boleh dibilang salah. Itu karena memindahkan pemakaian dari minyak ke minyak.  Premium berasal dari crude oil atau minyak mentah, Pertamax juga asalnya sama minyak mentah. Padahal, semestinya ke depan kita sebagai bangsa harus bisa menjamin ketersediaan atau keamanan energi kita yang tangguh. Saat ini kita mengetahui produksi minyak kita terus turun. Jadi kebijakan energi yang benar adalah harus mengurangi ketergantungan pada minyak.

Jumat, 16 Maret 2012

Propil Desa Tunggilis


Sejarah Desa
            Terbentuknya Desa Tunggilis diawali dengan sejarah Embah Malangkarsa beserta kawan-kawannya yang sering disebut cacah lima belas. Embah Malangkarsa berasal dari Banjar Negara, Jawa Tengah           dan datang sebelum perang Belanda dengan Pangeran Diponegoro pada tahun 1810. Penduduk asli Desa Tunggilis merupakan keturunan Embah Malangkarsa yang mempunyai dua keturunan, yaitu Eyang Patinggi dan Eyang Jaksa. Menurut cerita, beliau mendapat gelar petinggi di Cikupa, Kecamatan Pamarican pada tahun 1229 dan hal ini dibuktikan dalam karopak tembaga.
Adapun pendapat lain menyatakan bahwa awal Desa Tunggilis berasal dari berdirinya Desa Karang Kadawung, tepatnya di Gempalan yang sekarang menjadi wilayah Dusun Cimentek yang dipimpin oleh seorang kepala Desa bernama Bapak Karta Winata ( Eyangnya Bapak D. Solih) mantan kepala Desa yang ke 18. Tidak lama kemudian Desa Karang Kadawung dibagi menjadi dua, yaitu Desa Buniasih dan Desa Banjar. Desa Buniasih menurut cerita dipimpin oleh seorang kepala desa dari keturunan Eyang Patinggi dan Desa Banjar dipimpin oleh kepala desa Mas Jaya Banjar dari tahun 1812 – 1815. Pusatnya di Bulak Banjar yang sekarang menjadi Desa Banjarharja.
Nama Tunggilis itu dari salah seorang cacah lima belas sebagai leluhur yang bernama Eyang Tunggilis yang sekarang makamnya berada di Cinyepret, Karang Nangka, Desa Banjarharja. Menurut cerita, Eyang Patinggi yang memberi nama Tunggilis kemudian Desa Buniasih dan Desa Banjar bersatu menjadi Desa Tunggilis. Cerita lain dari Ama Sacadibrata tentang asal nama Tunggilis mengatakan bahwa tunggul pinang dalam pembuatan perkampungan atau bangunan-bangunan memberi tanda batas bobonjok terputus ( Nunggeulis ), maka diberi batas memakai pohon pinang yang sangat kuat.
Untuk selanjutnya agar generasi ke generasi mengetahui leluhur Desa Tunggilis yang dinamakan cacah lima belas, dijabarkan nama dan patilasan (makam) sebagai berikut :
1.        Embah Malangkarsa dimakamkan di Kalapa Dua, Desa Tunggilis
2.        Eyang Patinggi dimakamkan di Kalapa Dua, Desa Tunggilis
3.        Eyang Jaksa, dimakamkan di Kalapa Dua, Desa Tunggilis
4.        Embah Pereng, dimakamkan di Kalapa Dua, Desa Tunggilis
5.        Eyang Sutasara, dimakamkan di Mangku Jajar, Desa Banjarharja
6.        Eyang Tunggilis, dimakamkan di Cingepret, Karang Nangka, Desa Banjarharja
7.        Eyang Sabaranti, dimakamkan di Kalapa Endep, Cimentek, Desa Tunggilis
8.        Eyang Panambangan, dimakamkan di Bulakbanjar, Desa Banjarharja
9.        Eyang Sepuh/ Eyang Depok, dimakamkan di Depok, Desa Banjarharja
10.    Embah Dalem Senopati Jandaru, dimakamkan di Panaekan, Desa Putra Pinggan
11.    Eyang Raden Donan, dimakamkan di Gua Donan, Desa Tunggilis
12.    Embah Anut Kersa, dimakamkan di Kd. Gabar, Desa Banjarharja
13.    Eyang Sepuh, dimakamkan di Depok, Desa Banjarharja
14.    Adem Legok, dimakamkan di Cimangsur, Desa Tunggilis
15.    Eyang Cinta Alit, dimakamkan Cibarengkok, Desa Tunggilis
Adapun silsilah Desa Tunggilis ( Pemegang tampuk pemerintahan desa )
1.        Mas Jaya Banjar, menempatkan pusat pemerintahan Desa di Bulakbanjar
2.        Mas Candradiwangsa                    : tahun 1832 – 1852
3.        Raden Burdji                                 : tahun 1852 – 1872
4.        Raden Sarman                               : tahun 1872 – 1887
5.        Raden Pernata                               : tahun 1887 – 1892
6.        Marmo Miharjo                             : tahun 1892 – 1901
7.        Raden Harjawinata                        : tahun 1901 – 1928
8.        Raden Kartadireja                         : tahun 1928 – 1940
9.        M. Jayadiharja                               : tahun 1940 – 1945
10.    Tjandradiwangsa                           : tahun 1945 – 1954
11.    Hasanusi ( Pejabat )                       : tahun 1954 – 1958
12.    Natadiharja                                   : tahun 1958 – 1959
13.    Moch. Suhandi                              : tahun 1959 – 1962
14.    H. Muhtar                                     : tahun 1962 – 1974
15.    Dedi Suryadi ( Pejabat )                : tahun 1974 – 1976
16.    Leman Sudrajat                             : tahun 1976 – 1981
17.    A. Tashana ( Pejabat )                   : tahun 1981 – 1983
18.    D. Solih                                         : tahun 1983 – 1986
19.    A. Tashana ( Pejabat )                   : tahun 1986 – 1989
20.    Ece Sujana                                    : tahun 1990 – 1993
21.    Haer Heryawan                             : tahun 1994 – 2002
22.    Haer Heryawan                             : tahun 2002 – 2007
23.    Ilan Gumilar, S. H                          : tahun 2007 – sekarang
            Melihat dari kenyataan tersebut di atas, pada waktu Kepala Desa Bapak Leman Sudrajat, Desa Tunggilis mengalami pemekaran menjadi Desa Banjarharja tahun 1979 sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat No. 939/Pem/120-Pemdes/SK/1978 tanggal 15 Juni 1978 tentang Pemekaran Desa.

Sumber   : Tim Inti Perencana Desa Tunggilis 2010

Senin, 12 Maret 2012

PERJUANGAN GURU HONOR

Assalamu'alaikum wr.wb.

Salam sejahtera saya sampaikan untuk bapak dan ibu guru.
Tidak terasa sudah dua tahun perjalanan tanpa lelah saya dan teman-teman seperjuangan lalui dengan duka dan sukacita. Serangkaian perjuangan tanpa rasa lelah telah kita lewati, tak mengenal waktu , jarak bukan lagi alasan, apapun kita lakukan . Demi satu tujuan untuk kepentingan majunya pendidikan di negeri ini.
Satu motivasi besar yang menjiwai kami adalah selagi nyawa masih terkurung oleh raga keberhasilan bukanlah suatu yang mustahil.
Tak ada gunung tinggi yang tak dapat didaki, tak ada lautan luas yang tak dapat diseberangi, dan tak ada masalah yang tak terselesaikan. Bagaimanapun sulitnya melengkapi administrasi guru akhirnya selesaI juga. Kegigihan, ketabahan, dan keikhlasan adalah kunci keberhasilnnya.


Wassalamu'alaikum wr.wb

Mungkin artikel ini bermanfaat.
Bagi Bapak dan Ibu Guru yang berminat RPP ini Silahkan Down load

RPP Matematika Kelas IX Semester Genap TP 2011/2012 (pangkat tak sebenarnya)
RPP Matematika Kelas IX Semester Genap TP 2011/2012 (Pola Bilangan)
RPP Matematika KelasVIII Semester Genap TP 2011/2012
RPP Matematika Kelas VII Semester Genap TP 2011/2012