BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Dalam
Islam, berbicara mengenai pendidikan tidak dapat dilepaskan dari asal muasal
manusia itu sendiri. Kata “pendidikan” yang dalam bahasa arabnya disebut
“tarbiyah” (mengembangkan, menumbuhkan, menyuburkan) berakar satu dengan kata
“Rabb” (Tuhan). Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan adalah sebuah
nilai-nilai luhur yang tidak dapat dipisahkan dari, serta dipilah-pilah dalam
kehidupan manusia. Terpisahnya pendidikan dan terpilah-pilahnya
bagian-bagiannya dalam kehidupan manusia berarti terjadi pula disintegrasi
dalam kehidupan manusia, yang konsekwensinya melahirkan ketidak-harmonisan
dalam kehidupannya itu sendiri.
Dalam Al Qur’an, QS. As Sajadh: 7-9,
üÏ%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&yt/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ ¢OèO @yèy_ ¼ã&s#ó¡nS `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ä!$¨B &ûüÎg¨B ÇÑÈ ¢OèO çm1§qy yxÿtRur ÏmÏù `ÏB ¾ÏmÏmr ( @yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur 4 WxÎ=s% $¨B crãà6ô±n@ ÇÒÈ
Artinya “
“Yang
membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai
penciptaan manusia dari tanah.”
“Kemudian
Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani)”.
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)
nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan
dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”
Dapat
disimpulkan bahwa asal muasal komposisi manusia itu terdiri dari tiga hal yang
tidak terpisahkan: 1. Jasad. 2. Ruh. 3. Intelektualitas.
Semua
manusia adalah sama dalam komposisi ini. Mereka semua tercipta dan dilahirkan
ke alam dunia ini dengan dasar penciptaan dan kehidupan yang tidak berbeda.
Kesimpulan ini telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai haditsnya,
al:
“Setiap
anak yang lahir dilahirkan di atas dasar fithrah. Hanya saja, kedua ibu
bapaknya yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi” (hadits)”Setiap
hambaKu Aku ciptakan dengan kesiapan menjadi lurus (baik). Hanya saja,
syetan-syetan menjadikan mereka tergelincir (dalam kesesatan)” (hadits Qudsy).
Bahkan Al Qur’an itu sendiri dengan
tegas menyatakan bahwa komposisi penciptaan yang sempurna ini (ahsanu taqwiim)
dan diistilahkan dengan “fithrah Allah” (insaniyah/kemanusiaan), tidak mungkin
terganti atau terubah. Sebagaimana tercantum dalam QS: Ar Ruum: 30.
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pkön=tæ 4 w @Ïö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 Ï9ºs ÚúïÏe$!$# ÞOÍhs)ø9$# ÆÅ3»s9ur usYò2r& Ĩ$¨Z9$# w tbqßJn=ôèt ÇÌÉÈ
Artinya ;
“ Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui,”
Hakikat ini terkadang pula disebut
“Sunnatullah” (hukum Allah). QS: Al Ahzaab: 33, QS: Faathir: 35, dan QS: Al
Fath: 48.
Dasar-dasar pendidikan anak dalam Islam dapat disimpulkan
dari berbagai ayat, antara lain QS: Luqman: 12 – 19 ,
ôs)s9ur $oY÷s?#uä z`»yJø)ä9 spyJõ3Ïtø:$# Èbr& öä3ô©$# ¬! 4 `tBur öà6ô±t $yJ¯RÎ*sù ãä3ô±o ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî ÓÏJym ÇÊËÈ øÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏèt ¢Óo_ç6»t w õ8Îô³è@ «!$$Î/ ( cÎ) x8÷Åe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOÏàtã ÇÊÌÈ $uZø¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷yÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷yÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) çÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ bÎ)ur #yyg»y_ #n?tã br& Íô±è@ Î1 $tB }§øs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ xsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur @Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ ¢Óo_ç6»t !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5Ayöyz `ä3tFsù Îû >ot÷|¹ ÷rr& Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& Îû ÇÚöF{$# ÏNù't $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#ÏÜs9 ×Î7yz ÇÊÏÈ ¢Óo_ç6»t ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã Ìs3ZßJø9$# ÷É9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºs ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ wur öÏiè|Áè? £s{ Ĩ$¨Z=Ï9 wur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# w =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøèC 9qãsù ÇÊÑÈ ôÅÁø%$#ur Îû Íô±tB ôÙàÒøî$#ur `ÏB y7Ï?öq|¹ 4 ¨bÎ) ts3Rr& ÏNºuqô¹F{$# ßNöq|Ás9 ÎÏJptø:$# ÇÊÒÈ
Artinya ;
12. dan
Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah
kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya
ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka
Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13. dan
(ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. dan
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya;
ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. dan
jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16.
(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan)
seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi,
niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha
Halus[1181] lagi Maha mengetahui.
17. Hai
anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah).
18. dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah
kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. dan
sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
dan
QS: As Shafaat: 102, serta berbagai hadits Rasulullah SAW.
Kisah Luqman yang oleh sebagian ulama digelari dengan “al
hakiim” atau “Luqman yang bijaksana” mengajarkan bahwa “sifat bijak” bagi
seorang pendidik termasuk para orang tua adalah suatu keharusan. Luqman yang
memang secara khusus dikaruniakan ni’mat “hikmah” oleh Allah itu menyadari
sepenuhnya bahwa anak adalah bagian dari keni’matan Ilahi yang menjadi cobaan
(fitnah) atasnya. Oleh sebab itu ia menanamkan pendidikan kepada anaknya
sebagai manifestasi kesyukurannya terhadap Allah Pemberi ni’mat.
Masalah
pengajaran Pendididkan agama disekolah sudah saatnya dipikirkan, dianalisa, dan
diidentifikasi masalahnya secara lebih serius. Karena masalah pengajaran
pendididkan agama disekolah selain memiliki masalah yang tidak sedikit,
sekaligus juga mendalam.
Tugas
dan tanggung jawab atas pendidikan agama disekolah tidak hanya pada guru agama
saja, tetapi merupakan tanggung jawab sekolah secara keseluruhan. Lingkungan
sekolah harus mendukung dan menjadi
laboratorium bagi pengajaran agama. Dengan demikian, lingkungan dan proses
kehidupan semacam ini bagi para siswa benar-benar bisa memberi pendidikan dan
pelatihan tentang “ bagaimana cara
belajar beragama”
Usia Berapa
Sebaiknya Anak Masuk SD? Pertanyaan ini pasti sering
menghinggapi orang tua yang memiliki balita. Pada usia berapa sebenarnya anak
bisa masuk SD ? Yang diharapkan anak sudah mantap secara fisik dan psikologis
sehingga cukup cepat menangkap pelajaran. Bolehkah Anak masuk SD pada usia di
bawah 6 tahun ?
Finlandia sebuah Negara dengan ibukota Helsinki (tempat
ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dengan GAM) merupakan negara
dengan peringkat pertama untuk kualitas pendidikan. Ini memang begitu luar
biasa. Peringkat 1 dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic
Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA
(Programme for International Student Assesment) mengukur kemampuan siswa di
bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.
Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam
belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau
memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai
sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain,
yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu
hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah
Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu. Dengan kata lain
kesiapan dalam hal kematangan merupakan hal pokok sebelum menempuh pendidikan.
Dilain pihak Utami Munandar mengatakan sebenarnya bisa saja
anak yang belum berusia 6 tahun bersekolah di sekolah dasar. Sebab yang lebih
penting sebenarnya kesiapan umur mental si anak, yakni kemampuan mental dan
intelektual, bukan umur kalendernya. "Contoh, anak umur 4 tahun tapi umur
mentalnya 6 tahun, berarti mereka sudah siap masuk SD," papar Prof Dr. S.C
. Utami Munandar, guru besar psikologi anak Universitas Indonesia. Cuma, untuk
mengetahui apakah umur mental anak siap, orangtua mesti mengeceknya dengan
melakukan tes umur mental ke psikolog. Dari sini, nanti bisa diketahui IQ anak,
dengan rumus: (umur mental/umur kalender) x 100 = IQ. Bila skor IQ anak di atas
130, jauh di atas anak normal (skor IQ 85-115), bisa saja ia dipandang gifted
dan dipertimbangkan masuk SD lebih awal, setelah mempertimbangkan aspek-aspek
lainnya.
Tapi ada resiko lain yang mungkin dialami anak jika masuk
sekolah terlalu kecil. Misalnya karena anak masih kecil tidak sanggup
menghadapi tekanan pelajaran dan guru yang menyebabkan anak stress dan malas
sekolah. Bisa juga minder dalam pergaulan karena dianggap masih anak kecil.
Ketika
otonomi daerah mulai diberlakukan sejak 2001 lalu, urusan pendidikan dasar
menjadi urusan di bawah dinas pendidikan masing-masing daerah. Aturannya tetap
sama, usia masuk SD diutamakan 7 tahun, bila kapasitasnya masih mencukupi bisa
menerima murid yang berusia 6 tahun dengan prioritas usia mendekati 7 tahun.
Tentunya, angka 7 itu sudah melalui penelitian panjang sebelumnya.
Perubahan merupakan hal yang melekat dalam
perkembangan. E.B. Hurlock (Istiwidayanti dan Soejarwo, 1991) mengemukakan
bahwa perkembangan atau development merupakan serangkaian perubahan
progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.
Ini berarti, perkembangan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat
progresif (maju), baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perubahan
kualitatif disebut juga ”pertumbuhan” merupakan buah dari perubahan aspek fisik
seperti penambahan tinggi, berat dan proporsi badan seseorang. Perubahan
kuantitatif meliputi peubahan aspek psikofisik, seperti peningkatan kemampuan berpikir,
berbahasa, perubahan emosi dan sikap, dll. Selain perubahan ke arah penambahan
atau peningkatan, ada juga yang mengalami pengurangan seperti gejala lupa dan
pikun. Jadi perkembangan bersifat dinamis dan tidak pernah statis.
Terjadinya dinamika dalam perkembangan
disebabkan adanya ”kematangan dan pengalaman” yang mendorong seseorang untuk
memenuhi kebutuhan aktualisasi/realisasi diri. Kematangan merupakan faktor
internal (dari dalam) yang dibawa setiap individu sejak lahir, seperti ciri
khas, sifat, potensi dan bakat. Pengalaman merupakan intervensi faktor
eksternal (dari luar) terutama lingkungan sosial budaya di sekitar individu.
Kedua faktor (kematangan dan pengalaman) ini secara stimultan mempengaruhi
perkembangan seseorang. Seseorang anak yang memiliki bakat musik dan didukung
oleh pengalaman dalam lingkungan keluarga yang mendukung perkembangan bakatnya
seperti menyediakan dan memberi les musik, akan berkembang terus menerus
sepanjang hayat memungkinkan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan di
mana manusia hidup. Sikap manusia terhadap perubahan berbeda-beda tergantung
beberapa faktor, diantaranya pengalaman pribadi, streotipe dan nilai-nilai
budaya, perubahan peran, serta penampilan dan perilaku seseorang.
Pada
dasarnya, setiap individu mempunyai kemampuan untuk belajar. Proses semacam ini
dialaminya semenjak ia lahir sampai tumbuh dewasa. Adanya suatu kegiatan
belajar tidak lepas dari pada tujuan yang hendak dicapai yakni agar mampu
mengadakan perubahan-perubahan dalam setiap perkembangannya yang ada.
Adapun
tantangan yang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar amat banyak sekali,
khususnya pada lembaga pendidikan. Karena diharuskan atau dituntut agar siswa
berhasil dalam studinya tersebut.
Kalau
dilihat lebih jauh tentang berbagai upaya yang dilakukan dalam mengatasi
masalah tersebut, seolah-olah masih terjadi ketidak puasan terhadap siswa
dikarnakan tidak sesuai dengan tujuan belajar itu sendiri. Hal ini merupakan
tanggung jawab kita bersama agar nantinya siswa dapat mengetahui serta memahami
tentang terbagi metode yang harus ia jalani sehingga nantinya akan membuahkan
hasil yang sangat memuaskan.
Dalam
proses belajar mengajar sangatlah diperlukan suatu metode yang pas yang harus
diterapkan dalam kegiatan belajar agar siswa dapat mencapai suatu keberhasilan.
Disinilah kita membutuhkan suatu renungan pemikiran dan kerja keras untuk
memecahkan masalah yang berkenaan dengan belajar mengajar.
Namun dalam pandangan Thorndike mengemukakan dalam
belajar terdapat tiga hukum yang utama yaitu ;
a. Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah
respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus -
Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang
dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang
terjadi antara Stimulus- Respons.
b. Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu
pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan
pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan
yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
Menurut Gunarsa kesiapan ini dari
sudut kematangan dan dari sudut kemauan.
c. Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara
Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan
akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
Dalam Islam pendidikan adalah hal
sangat penting yang perlu ditanamkan sejak usia dini, namun dalam menempuh
pendidikan tersebut ada banyak hal yang perlu di perhatikan oleh orang tua,
guru, atau pun pemerintah diataranya adalah kesiapan dalam bentuk kematangan
sehingga diharapkan dapat memacu prestasi belajar peserta didik.
B.
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, penulis merumuskan beberapa
masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana
kematangan peserta didik di kelas VI SDN 2 Tunggilis?
2.
Bagaimana
prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI dikelas VI SDN 2 Tunggilis?
3.
Bagaimana
pengaruh kematangan peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik pada
mata pelajaran PAI di kelas VI SDN 2 Tunggilis?
C.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan
perumusan masalah dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1.
Kematangan
peserta didik di kelas VI SDN 2 Tunggilis.
2.
Prestasi
belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI dikelas VI SDN 2 Tunggilis
3.
Pengaruh
kematangan peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik pada mata
pelajaran PAI di kelas VI SDN 2 Tunggilis.
D.
Kegunaan Penelitian
Dari penelitian ini
diharapkan memberikan kegunaan baik secara praktis dan akademis diantaranya:
Kegunaan secara praktis:
1.
Bagi
guru, dapat dijadikan sebagai pedoman dan bahan acuan dalam upaya untuk
meningkatkan prerstasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI.
2.
Bagi
peserta didik, dapat menjadi pedoman mengenai pentingnya meningkatkan prestasi
belajar pada mata pelajaran PAI.
3.
Bagi
penulis, dapat menambah wawasan dan dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya
pengaruh kematangan peserta didik terhadap prestasi belajar mereka pada mata
pelajaran PAI, serta dapat dijadikan bahan untuk penelitian selanjutnya yang relevan
dengan permasalahan penelitian ini.
Kegunaan
secara akademis,
Dari penelitian ini diharapkan dapat
menambah khazanah ilmu pengetahuan dalam
pengaruh kematangan peserta didik terhadap prestasi belajar mereka pada
mata pelajaran PAI.
E.
Langkah-langkah Penelitian
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini dilakukan di kelas VI SDN 2 Tunggilis. Alasan penulis memilih lokasi
tersebut karena sepengetahuan penulis di sekolah tersebut sampai penulis
mengadakan penelitian, belum pernah ada yang meneliti, juga karena di lokasi
terdapat permasalahan dengan objek yang diteliti serta tersedia data-data dan
sumber data yang dibutuhkan.
Sedangkan
waktu penelitian direncanakan dapat diselesaikan dalam jangka tiga bulan, yaitu
dari mulai 01 September sampai dengan 01 november 2010.
2. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah bagian penting dari suatu
penelitian. Bagi penelitian kuantitatif, variabel penelitian bahkan menjadi
syarat mutlak. Untuk penelitian jenis ini, minimal variabel yang diteliti
adalah dua variabel (X dan Y). Sedangkan untuk jenis penelitian kualitatif,
variabel penelitian setidaknya menggambarkan objek yang diteliti.
Penelitian
dengan masalah: Apakah terdapat Pengaruh Kematangan Peserta Didik Terhadap
Prestasi Belajar Mereka Pada Mata Pelajaran PAI (penelitian di SDN 2 Tunggilis
kecamatan Kalipucang Kabupaten Ciamis)
Variabel X(
terikat) = pengaruh kematangan peseta didik
Variabel Y(
bebas) = prestasi belajar mereka pada mata pelajaran PAI
3. Populasi dan Sampel
Populasi
adalah keseluruha objek penelitian. Sedangkan sampel adalah sebagian kecil atau
wakil populasi yang diteliti ( Arikunto, 1999: 117). Pengambilan sampel
didasarkan pendapat Suharsimi Arikunto (1999: 120), yaitu: apabila subjeknya kurang dari 100
orang atau bejumlah 100 orang lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya
merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subjeknya lebih besar dari 100 orang dapat diambil 10%, 15% atau
20% - 25%.
Dalam
penelitian ini diketahui bahwa jumlah peserta didik kelas VI SDN 2 Tunggilis
berjumlah 30orang, maka penulis mengambil sampel seluruhnya yaitu 30 orang.
4. Metode Penelitian
Metode
yang digunakan dalam penulisan ini ialah metode deskriptif. Surakhmad (1990:
1390 mendifinisikan metode deskriptif yaitu: menuturkan dan menafsirkan data
yang ada, misalnya tentang situasi yang alamiah, kegiatan pandangan, sikap
nampak dan sebagainya. Metode penelitian deskriptif ini adalah kegiatan
penyelidikan untuk memecahkan masalah dengan jalan mengumpulkan data, menyusun
atau mengaplikasikan, menganalisa dan menginterprestasi.
5. Teknik Pengumpulan Data
a. angket
Angket
adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memeperoleh
informasidari responden, dalam arti laporan pribadi atau hal-halyang diketahui(
Arikunto, 1999: 227). Bentuk angket ini adalah terstruktur, berisi pertanyaan
maupunpernyataan yang disertai sejumlah alternative jawaban.
Pada
penelitian ini, teknik angket digunakan untuk memeperoleh data tentangpengaruh
kasih saying orang tua terhdap prestasi belajar peserta didik pada mata
pelajaran PAI ,dan jenis angket yang digunakan yaituangket tertutup yang
jawabannya sudah disediakan secara terstruktur, dengan dilengkapi jawaban
terdiri dari a, b, c, dan d. Pada variable ini disediakan pertanyaan sebanyak
15 buah.Untuyk memberikan skor pada tiap alternatip jawaban, R Likert yang
dikutip oleh Wayan Nurkancana dan PPNF Sumarta (1992: 281) memberikan batasan
sebagai berikut: untuk statemen yang positif pilihan sangat setuju skornya 5,
setuju skornya 4, ragu-ragu skornya 3, tidak setuju skornya 2 dan sangat tidak
setuju skornya 1, untuk negative system skornya sebaliknya.
b.
Observasi
Menurut Surakhmad (1990: 162) observasi
yaitu teknik pengumpulan data dimana penyelidik mengadakan pengamatan secara
langsung (tanpa alat0 terhadap gejala-gejala subjek yang diselidiki. Teknik ini
digunakan untuk mendapatkan data tentang kondisi objektif SDN 2 Tunggilis, baik
dari letak geografisnya, siswa, guru, bangunan serta hallain yang dianggap
mendukung keberhasilan penelitian ini.
c.
Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan
maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara
(interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai ( interviewee)
yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2004: 135). Wawancara
akan dilakukan dengan sumber data yang berkaitan dengan permasalahan judul
skripsi ini. Sumber data tersebut antara lain Kepala Sekolah dalam rangka
mengetahui kondisi objektif lokasi penelitian, peserta didik dan guru.
d.
Studi Dokumentasi
Studi Dokumentasi dimaksudkan untuk
mengumpulkan data yang menurut penulis ada relevansinya dan mendukung tambahan
data untuk perlengkapan penelitian. Selain itu, studi dokumentasi juga
dilakukan untuk mengumpulkan data gambaran umum sekolah yang dijadikan lokasi penelitian.